Thursday, October 11, 2012
0
Oleh :salman rusdi
Perkembangan ekonomi Islam dalam tiga dasawarsa belakangan ini mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk kajian akademis di perguruan tinggi maupun secara praktik operasional. Perhatian para ilmuwan kepada ekonomi Islam mulai berlangsung sejak tahun 1960-an, antara lain dikembangkan oleh, Dr.Kursyid Ahmad, Dr.M.N.Shiddiqy, dan Dr.M.A.Mannan, Dr.M.Umer Chapra, dll. Buah dari kajian mereka itulah yang menghantar pendirian IDB (Islamic Development) pada tahun 1975 di Jedah dan diselenggarakannya Konferensi Ekonomi Islam Internasional Pertama tahun 1976 di Jeddah. Konferensi Pertama ini  dijadikan sebagai momentum awal kelahiran ilmu ekonomi Islam modern.
Sejak tahun 1970-an tersebut kajian ilmiah dan riset tentang ekonomi Islam yang bersifat empiris terus dilakukan dan disosialisasikan ke berbagai negara, sehingga gerakan akademis ekonomi Islam makin berkembang. Sejak tahun 1990-an, studi ekonomi Islam telah dikembangkan di berbagai universitas, baik di negeri-negeri Muslim (khususnya Asia dan Afrika) maupun di negara-negara Barat, seperti di Eropa, Amerika Serikat dan Australia. Di Inggris terdapat beberapa universitas yang telah mengembangkan kajian ekonomi Islam (Islamic economics), seperti University of Durham, University of Portsmouth, Markfield Institute of Higher Education, University of Wales Lampeter, dan Loughborough University. Di Amerika Serikat, sebuah universitas paling terkemuka di dunia, yaitu Harvard University,  sangat aktif melakukan kajian ekonomi Islam. Para pakar ekonomi Islam di sana mengadakan Harvard Forum yang setiap tahun menggelar seminar dan workshop ekonomi Islam. Di Australia, University of Wolongong juga melakukan hal yang sama. Di Malaysia, kajian akademis ekonomi Islam di Perguruan Tinggi telah dimulai sejak tahun 1983.
Di Indonesia, kajian akademis ekonomi Islam di Perguruan Tinggi, baru marak sejak tahun 2000an.  IAIN Sumatera Utara merupakan Perguruan Tinggi paling awal dalam mengembangkan kajian ekonomi Islam di Indonesia, yaitu dengan berdirinya Forum Kajian Ekonomi dan Bank Islam (FKEBI) pada tahun 1990. FKEBI dengan demikian, lahir sebelum berdirinya Bank Muamalat Indonesia di Jakarta tahun 1992. Tampilnya IAIN Sumatera Utara sebagai pelopor pertama gerakan akademis ekonomi Islam, dikarenakan pengaruh kuat negara jiran Malaysia yang telah tujuh tahun mengembangkan kajian ekonomi Islam di negaranya.
Awalnya, beberapa  intelektual asal Medan bernama Dr. Muhammad Yasir Nasution (Fakultas Syari’ah IAIN-SU) dan Dr. Asraruddin, ZA diundang oleh Malaysia untuk mengikuti Konferensi Internasional Ekonomi Islam ke 3 di Kuala Lumpur pada tahun 1990. Dalam membangun FKEBI,  Prof.Dr. M.Yasir  ditemani Prof.Bahauddin Darus dan Prof.Subroto, dari Fakulktas Ekonomi USU dan beberapa teman yang lain, seperti Dr.Amiur Nuruddin,MA, serta Syofyan Syafri Harahap. Setelah kepulangannya dari Malaysia tersebut, terjadi perubahan besar dalam diri M.Yasir Nasution. Keraguan yang selama ini menyelimuti pemikirannya tentang ekonomi Islam, berubah secara drastis menjadi haqqul yakin dan bersemangat untuk mengembangkan kajian ekonomi Islam di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Sejak itu, kegiatan simposium, seminar dan training-training ekonomi dan bank syari’ah sering digelar di Sumut, di antaranya  bekerjasama dengan IIUM Malaysia tahun 1993 dan buahnya pada tahun 1995-1996 berdirilah 5 bank syariah di Sumatera Utara  dalam bentuk BPRS. Atas peran penting tersebut maka tidak aneh jika Prof.Dr.M.Yasir Nasution (Rektor IAIN-SU) berhasil mendapat Syari’ah Award 2005 di Jakarta baru-baru ini.
Pada tahun 1996 itu juga masuk-lah PINBUK yang mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah atau BMT (Baitul Mal wat Tamwil) atas upaya dan prakarsa Prof.Dr. M. Yacub M.Ed dari IKIP Medan (Unimed sekarang). Atas perannya bersama Kasim Siyo, dan Agustianto (penulis sendiri), dan teman-teman lain,  BMT berkembang hampir di seluruh Sumatera Utara, mencapai 156 BMT di tahun 1997.
Namun sangat disayangkan, selama lebih sepuluh tahun, (sejak tahun 1990-2004),   IAIN-SU berleha-leha dalam melahirkan  pakar dalam bidang ekonomi Islam. Artinya, IAIN-SU tidak segera menyekolahkan dosennya untuk mendalami ekonomi Islam baik S2, maupun S3. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, akhirnya FKEBI dan IAIN-SU sangat terlambat dari berbagai Perguruan Tinggi lain di Indonesia, karena tidak memiliki pakar (Doktor) di bidang ekonomi Islam.
Berbeda dengan IAIN-SU,  Universitas Islam Yogyakarta, secara cerdas menyekolahkan dosen-dosennya S2 dan S3 untuk mendalami ekonomi Islam, baik di Malaysia, Inggris, maupun Australia. Demikian pula Universitas Brawijaya Malang, menyekolahkan  dosennya Iwan Triyuwono untuk mendalami akuntansi Islam di Australia. Beberapa Universitas lainnya juga sibuk menyekolahkan dosennya untuk mendalami ekonomi Islam di berbagai negara.
Sejalan dengan maraknya perkembangan perbankan syari’ah dan lembaga-lembaga keuangan syari’ah lainnya, maka tumbuh dan berkembang pulalah secara massif program pendidikan ekonomi Islam di Indonesia, sebagai respon terhadap maraknya lembaga –lembaga keuangan syari’ah. Dalam masa lima tahun (2000-2005) perkembangan perbankan dan asuransi syari’ah tumbuh secara fantastis. Kini (Desember 2005) perbankan syari’ah telah berjumlah 19 buah dengan jaringan kantor sebanyak 514 buah. Sementara asuransi syariah yang selama ini diperankan asuransi Takaful secara tunggal, kini telah lahir 26 asuransi syari’ah. Dalam waktu dekat, akan bertambah 5 asuransi syariah lagi sehingga berjumlah 31 asuransi syari’ah. Selain itu juga telah  berkembang pula pasar modal syari’ah ( reksadana syariah dan obligasi syari’ah), pegadaian syari’ah, Baitul Mal wat Tamwil (BMT), koperasi syari’ah, lembaga zakat, waqaf dsb.
Kajian Akademis Ekonomi Islam di Indonesia telah berkembang pesat di Universitas paling terkemuka di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia melalui Program Pascasarjananya PSTTI. Sejak tahun 2000 sampai sekarang, telah dibuka delapan konsentrasi ekonomi Islam di Universitas Indonesia untuk Program S2 (Magister), ada konsentrasi perbankan syari’ah, asuransi syari’ah, Akuntansi Syari’ah, Manajemen Syari’ah, Manajemen Resiko, Zakat dan Waqaf, Ekonomi Pembangunan Islami,  dan sebagainya. Tahun depan Universitas Indonesia, akan membuka Program Doktor Ekonomi Islam.
Selain Universitas Indonesia, Perguruan Tinggi yang membuka Program Studi dan jurusan ekonomi Islam adalah Universitas Trisakti, baik program S2 maupun S3 dengan mendatangkan dosen-dosen dari luar negeri. Karena kepedulian kepada ekonomi syari’ah tersebut, maka Thobi Muties (Rektor Trisakti) yang non Muslim mendapat syari’ah Award 2004). Demikian pula Universitas Airlangga Surabaya melalui peran Prof. Dr. Suroso Imam Djazuli, sejak akhir tahun 1990an, mereka telah koncern mengembangkan kajian ekonomi Islam melalui Program pascasarjana (S2). Alhamdulillah kini (2005) mereka telah membuka Program Studi Ekonomi Islam. Dr. Mustafa Edwin Nasution (Ketua IAEI) diundang untuk memberikan Orasi Ilmiah pada pembukaan program tersebut.
Sementara itu Universitas Islam Yogyakarta, sejak awal juga sangat konsern pada kajian ekonomi Islam, baik S1, S2 maupun S3. Kini Universitas Gajah Mada juga membuka Konsentrasi Ekonomi Islam untuk Program Pascasarjana (S2). Universitas Brawijaya Malang, IPB Bogor, dan UMI Makasar juga dikenal sangat peduli dan concern pada kajian Ekonomi Islam ditambah beberapa Universitas Muhammadiyah, baik di Malang, Yogyakarta, dan Solo
Dari fenomena kajian akademis tersebut, telihat bahwa Perguruan Tinggi Umum, justru lebih peduli dan bersemangat mengembangkan kajian ekonomi Islam dibanding Perguruan Tinggi Islam seperti Universitas Islam Jakarta dan IAIN lainnya, kecuali IAIN-SU.
IAIN-SU sejak tahun 1997 telah membuka Program D3 Manajemen Bank Syari’ah, sebagai Program Diploma Ekonomi Syariah pertama di Indonesia yang membuka jurusan bank syari’ah. Selanjutnya disusul IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Jakarta, IAIN Pekanbaru dan STAIN Cirebon.  UIN Jakarta membuka jurusan bank syari’ah dan asuransi syari’ah  tahun 2002, Sedangkan IAIN Padang pada tahun 2000, setelah mereka studi banding ke Program D3  Bank Syari’ah IAIN-Sumatera Utara.
Di Pulau Jawa, Konsentarsi ekonomi syari’ah telah dilangsungkan  sejak tahun 1997/1998 oleh STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah) Yogyakarta, yang dikembangkan Dr. Muhammad.  Tazkia Insitute oleh Muhammad Syafii Antonio  malah berdiri setelah setahun  Program D3 Bank Syariah IAIN-SU. Demikian pula SEBI (Syari’ah Economics and Banking Institute) di Jakarta, juga berdiri hampir bersamaan dengan Tazkia Institute.
Di awal tahun 2000an, (khususnya sejak tahun 2001/2002) barulah Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia, tersentak dan bangkit untuk membuka konsentrasi ekonomi Islam,  khususnya Program Pascasarjana (S2), seperti UIN Jakarta,  IAIN Sumatera Utara (S2), IAIN Bandung, IAIN Pekanbaru, dan IAIN-IAIN lainnya. Yang perlu dicatat, adalah bahwa kelahiran Konsentrasi Ekonomi Islam di S2, justru lebih dahulu lahir dari Program S1. Hal ini disebabkan karena izin membuka Jurusan atau Prodi Ekonomi Islam di S1 lebih sulit daripada Konsentrasi Ekonomi Islam di S2. Pembukaan Konsentrasi Ekonomi Islamdi S2 , tidak membutuhkan izin dari Bimbaga Islam Depag di Jakarta, karena diberi kebebasan kepada program pascasarjana masing-masing untuk membuka konsentrasi tertentu. Kini pembukaan konsentrasi ekonomi Islam tumbuh pesat, seperti DIII STIAMI Jakarta, S2 Untuk Magister Manajemen di Universitas Paramadina, UMJ, Univ Al-Azhar, Univ Asy-Syafi’iyah, dll.
Di tengah maraknya Perguruan Tinggi Umum mengembangkan kajian ekonomi Islam baik dalam bentuk konsentrasi, Program Studi, Jurusan  atau tawaran mata kuliah pilihan seperti Universitas Indonesia, Universitas Gajah  Mada, Unair Surabaya, Universitas Trisakti Jakarta, UII Yogyakarta, Unibraw Malang, Unpad Bandung, namun  di Sumut Perguruan Tinggi Umum dan Islam (kecuali IAIN-SU), terkesan masih diam dan seolah tak peduli dengan perkembangan ekonomi syariah tersebut, sebut saja UMSU, UMN Alwashliyah, UNIMED, USU, Universitas Pancabudi, Darmawangsa, dll. Seharusnya merekalah yang peduli dan koncern kepada ekonomi Islam, sebagaimana yang terjadi di luar negeri atau di Pulau Jawa.
Kurangnya respons kepada ekonomi Islam di Perguruan Tinggi tersebut dikarenakan tidak adanya dosen/pakar ekonomi Islam dan merekapun tidak berupaya untuk mewujudkannya melalui program pendidikan dosen (S2-S3) ekonomi Islam sebagaimana UII Yogyakarta dan Universitas lainnya. Mereka juga kurang serius mendalami (jangan-jangan tidak membaca) ribuan tulisan ilmiah tentang ekonomi Islam dalam bentuk jurnal, hasil penelitian, hasil simposium, konferensi, hasil seminar, maupun buku-buku ekonomi Islam. Padahal menurut Dr.Javed Ahmad Khan dalam buku Islamic Economics and Finance : A Bibliografi, (2002), telah terbit 1621 karya ilmiah ekonomi Islam yang berisi kajian empiris tentang ekonomi Islam.

0 komentar:

Post a Comment

Udah baca artikel nya? Gimana pendapat kalian? Ayo comment selama masih gratis haha. Jangan jadi silent reader bro :)